Komunikasi Antar Budaya
Dalam bab
pertama ini dimulai dengan mengantarkan pembaca mengenal lebih dekat dengan model
komunikasi, budaya, internet, dan budaya. Kemudian, dijelaskan pendekatan dan
komponen dalam komunikasi antarbudaya dan diteruskan dengan karakter-istik
media baru dan interaksi simbolik dalam budaya siber. Pembahasan dilanjutkan
dengan pemaknaan identitas, masyarakat jejaring, dan ruang publik. Pada bagian
akhir, penulis meng-ulas komodifikasi informasi di era digital. Tanpa komunikasi
manusia bisa dipastikan akan “tersesat” dalam belantara kehidupan ini karena
tidak bisa menaruh dirinya dalam lingkungan sosial.
Sebelum
fasefase tersebut, manusia melakukan kontak dengan sesuatu yang sangat
sederhana, seperti dengan gambar dan lukisan di gua-gua. Fase pertama disebut
the writing era, ketika komunikasi dimulai dengan tulisan yang bisa dibaca.
Selanjutnya, dinamakan the printing era. Pada fase ini komunikasi manusia lebih
maju dengan memanfaatkan teknologi cetak. Fase ketiga disebut telecommunication
era. Fase ini berimplikasi pada pengertian komunikasi jarak jauh ketika
memasuki era teknologi elektronika. Proses interaksi
antarmanusia yang dimediasi oleh teknologi dan mampu menjangkau lapisan
masyarakat dari belahan dunia manapun menjadi semakin terbuka. Pesan yang
sebelumnya tercetak kini bisa dinikmati secara audio, visual, bahkan kombinasi
antara audio-visual. Lebih dari itu, media juga sudah menjelma sebagai sumber
hiburan, pendidikan, sosial, gaya hidup, hinggabisnis yang menguntungkan.
Internet sebagai salah satu dampak pembaharuan perkembangan teknologi pada
dasarnya tidak hanya bisa menjadi semacam pintu untuk mengetahui budaya yang
ada pada masyarakat di daerah itu, melainkan menjadi perangkat dalam ekspresi
budaya itu sendiri. Internet juga bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial,
baik itu melalui pembacaan terhadap sejarah perkembangannya maupun kebermaknaan
dan kebergunaan internet tersebut.
Di
satu sisi beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan keuntungan dan
sebaliknya beberapa fenomena yang terjadi di internet terkadang malah tidak
memberikan apa-apa. internet merupakan tonggak perkembangan teknologi interaksi
global di akhir dekade abad ke-20 yang mengubah cakupan serta sifat dasar
medium komunikasi. Transformasi ini disebut sebagai second media age. Pada
transformasi ini media tradisional seperti radio, koran, bahkan televisi telah
banyak ditinggalkan oleh khalayak dan beralih ke media internet yang lebih
kontemporer. Era teknologi digital dan teknologi komunikasi (internet) telah
mengubah arah komunikasi yang selama ini menganut pola broadcast (satu arah)
sehingga kehadiran teknologi komunikasi menjadi dua arah bahkan lebih atraktif.
Komunikasi yang terjadi lebih instan, dinamis, tidak tersentral, dan melibatkan
khalayak.
Interaksi
simbolik (teks) di dalam budaya siber merupakan medium yang mewakili proses
komunikasi melalui internet. Meskipun saat ini kemajuan telah memungkinkan
antarentitas berinteraksi melalui suara maupun visual, misalnya melalui layanan
Skype, simbol (teks) menjadi dasar komunikasi termediasi komputer. Berkaitan
dengan itu, Smith (1995) menekankan ada dua aspek penting dalam komunikasi di
internet. Pertama, interaksi yang terjadi melalui jaringan komputer pada
dasarnya diwakili oleh teks. Kedua, interaksi yang terjadi cenderung
mengabaikan suatu stigma terhadap individu tertentu sebab komunikasi
berdasarkan teks ini sangat sedikit menampilkan gambaran visual seseorang,
misalnya tombol like dalam Facebook yang mengikuti status yang sedang
dipublikasikan oleh si pemilik. Cultural studies mampu mengaburkan kelas-kelas
sosial yang telah mapan sebagai sebuah strata yang ada di masyarakat.
Pendekatan ini, dalam melihat budaya siber yang ada di internet, memberikan
arah untuk melihat proses komodifikasi yang terjadi di ruang virtual (tentu
saja dengan mengabaikan kajian berdasarkan perbedaan kelas), ketika kekuasaan
berada pada subjek atau individu itu sendiri.
Teknologi dan entitas yang berada di dalamnya
seperti produsen, distributor, pengiklan, maupun pengguna merupakan model
ekonomi baru melandaskan produk dan komoditasnya pada informasi. Namun patut
dicatat, teknologi informasi tidaklah serta merta mengubah kultur yang ada di
tengah masyarakat dan jika ada perubahan kultur pun disebabkan oleh interaksi
yang terjadi di antara keduanya.
Intinya,
perkembangan dan pertumbuhan internet dewasa ini telah mengubah wajah dunia.
Ada banyak hal yang berubah. Berbagai hal yang sebelumnya terbatas oleh kondisi
dan geografis kini perlahan mengabur, menjadikan pertukaran informasi
berlangsung sepanjang waktu. Namun di sisi lain, kondisi ini juga semakin
mengaburkan batasan antarbudaya, mengubah cara berkomunikasi antarbudaya, dan
secara langsung maupun tidak langsung menghadirkan percampuran budaya. Dari
perspektif komunikasi antarbudaya, penulisnya mencoba menghadirkan bahasan
komprehensif bagaimana budaya termediasi di internet. Di dalamnya, dapat kita
temukan pemaparan tentang fenomena siber dan pengaruhnya terhadap kebudayaan
dan konsep komunikasi antarbudaya.
Komentar
Posting Komentar